Jumat, 28 September 2012

Tingkatan - Tingkatan Hidayah



Hidayah ini mempunyai tiga tingkatan :
Pertama , mengetahui jalan kebaikan dan keburukan, yang diisyaratkan oleh firman Allah Ta’ala yang artinya; “ Dan kami telah menunjukkan dua jalan baginya.” ( QS : Albalad : 10)
Nikmat itu telah telah dianugerahkan oleh Allah kepada seluruh hamba-hamba-Nya,sebagian dengan perantaraan akal dan sebagian lagi dengan perantaraan sabda para Rasul alaihimussalam. Karena itu, Allah Ta’ala berfirman, yang artinya : “ Adapun kaum Tsamud, maka mereka telah kami beri petunjuk….” (QS. Fushsilat (41) : 17).
Sarana-sarana untuk mendapatkan petunjuk adalah kitab-kitab, rasul-rasul dan ketajaman pandangan akal, dan semua saran ini telah diberikan kepada manusia, tidak ada yang bias mengingkarinya kecuali kedengkian, kesombongan, kecintaan kepada dunia serta faktor-faktor lain yang membutuhkan hati, sekalipun tidak membutuhkan mata. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “ …..Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang ada didalam dada.” (QS. Alhajj (22) : 46).
Diantara faktor-faktor yang membutakan hati adalah tradisi dan adat istiadat serta kecintaan untuk menghidup-hidupkannya, itulah yang diungkapkan dalam firman, yang artinya : “ Sesungguhnya kami  mendapati bapak-bapak  kami menganut suatu agama.” (QS. Azzukhruf (43) : 22).
Sedangkan firman Allah berikut ini menyatakan tentang faktor kesombongan dan kedengkian : “ Mereka : mengapa Al-qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu diantara dua negeri (Mekah dan Thaif) ini?” (QS. Azzukhruf (43) : 31).
“ Bagaimana   kami akan mengetahui begitu saja kepada seorang (manusia) biasa diantara kami.” (QS. Alqamar (54) :24).
Inilah faktor - faktor yang membutakan, yang menghalangi seseorang  dari mendapatkan petunjuk.
Kedua : hidayah yang berada dibelakang hidayah yang bersifat umum ini ia adalah pertolongan yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya dari suatu keadaan yang lain. Ia merupakan buah (hasil) dari mujahadah (oleh batin). Allah Ta’ala berfirman, yang artinya : “Dan orang-orang yang bermujahadah untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami .” (QS.Al Ankabut (29) :69).
Itulah yang dimaksud dalam firman Allah Ta’ala, yang artinya : Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya. (QS. Muhammad (47) :17).
Ketiga : adalah hidayah yang berada dibelakang hidayah yang kedua, yaitu cahaya (nur) yang menerangi alam kenabian dan kewalian setelah sempurna mujahadah , sehingga dengan cahaya ini akal bisa  meraih petunjuk mengenai sesuatu yang tidak bisa dicapainya dengan akal yang menjadi sebab adanya taklif dan memungkinkan untuk mempelajari ilmu-ilmu, inilah hidayah mutlak. Sedangkan yang lain dari padanya hanyalah ibarat tabir yang menutupinya atau pengantar-pengantar yang menyampaikan kepadanya. Inilah hidayah yang dimuliakan oleh Allah dengan penisbatan khusus kepada-Nya, sekalipun semuanya juga berasal dari-Nya. Allah berfirman : yang artinya :” Katakanlah   :Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang benar.” (QS.Al Baqarah (2):120).
Inilah pula yang disebut sebagai kehidupan dalam firman Allah yang berbunyi, yang artinya : “ Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia…… .” (QS.Al An’am (6) : 122).
Dan itu pula yag dimaksudkan dalam firman Allah yang artinya: Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Azzumar (39) : 22).
Adapun yang kami maksudkan dengn rusyd adalah bimbingan Ilahi yang akan membantu manusia dalam mengendalikan keinginannya kepada tujuan-tujuannya, yang mendorong keinginannya itu ketika menuju tujuan yang membawa kemaslahatan bagi dirinya dan melemahkannya dari tujuan yang membawa kerusakan bagi dirinya. Dan faktor yang menguatkan dan melemahkannya itu berasal dari bathin, sebagaimana  firman Allah Ta’ala yang artinya : “ Dan sesungguhnya telah kami anugerahkan rusyd kepada Ibrahim sebelum itu (Musa dan Harun) , dan adalah kami mengetahui (keadaan)nya.” (QS. Al Anbiya (21) :51).
Jadi rusyd adalah istilah untuk suatu petunjuk yang memotivasi dan menggerakkan menuju arah kebahagiaan. Seorang anak kecil, apabila telah mengetahui cara menjaga harta kekayaan serta jalur-jalur perdagangan serta investasi, namun ia masih suka menghambur-hamburkan harta dan tidak menginvestasikanya, maka ia tidaklah disebut rasyid. Bukan karena ia belum mendapatkan hidayah, tetapi hidayah yang dimilikinya itu belum bisa menggerakkan motivasinya. Betapa banyak manusia yang melakukan sesuatu yang telah diketahuinya bahwa hal itu membahayaka dirinya. Ia tidak dikaruniai hidayah yang membedakan dirinya dari orang bodoh yang tidak mengetahui bahwa hal itu membahayakan dirinya, namun ia belum dikarunia rusyd. Dengan pengertian seperti ini, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa rusyd itu lebih sempurna dari sekedar  hidayah  yang menunjukkan kepada segi-segi amal dan merupakan karunia yang agung.
Adapun tasdid adalah pengarahan yang akan mengarahkan gerakan-gerakan seseorang untuk sampai dan mendapatkan kemudahan dalam mencapai keinginannya, sehingga ia bisa mencapai titik yang benar dalam waktu yang paling singkat. Karena dengan hidayah semata tidaklah cukup, tetapi harus ada hidayah lain yang menggerakkan motivasi, yaitu rusyd. Sedangkan rusyd juga belum mencukupi, tetapi harus ada kemudahan bergerak dengan bantuan aggota-anggota tubuh dan peralatan, sehingga maksud yang ingin dicapai itu terwujud. Hidayah saja berarti pengenalan, rusyd adalah pembangkitan motivasi agar tergugah dan tergerak, sedangkan tasdid adalah bantuan dan pertolongan dengan digerakkannya anggota-anggota tubuh menuju titik tujuan yang benar.
Adapun ta’yid, tampaknya mencakup ketiganya. Ia adalah istilah untuk menyebut factor yang menguatkan urusannya dengan bashira (pandangan bathin) dari dalam dirinya, pemacu kekuatan geraknya, dan membantu sebab-sebab yang berasal dari luar. Inilah yang dimaksudkan oleh firman Allah Ta’ala yang artinya : “ Di waktu Aku memberikan ta’yid (pertolongan) kepadamu dengan Ruh Alqudus.” (QS.Almaidah (5) :110).
Sesuatu yang mirip pengertianya dengan ta’yid adalah ishamah yaitu suatu istilah untuk menyebut ‘ wujud ilahi’ yang ada di dalam  bathinya ini menjadi pertahan yang tidak dapat diindera. Inilah yang dimaksudkan dalam firman Allah Ta’ala yang artinya : “ Sesungguhnya wanita itu telah berkeinginan (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun berkeinginan (melakukannya) dengan wanita itu, andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. (QS. Yusuf (12) :24).
Ishmah inilah yang menghimpun seluruh nikmat, dan ia tidak akan dimiliki oleh seseorang kecuali dengan pemahaman yang jernih dan cerdas; hati yang sadar; rendah hati dan penuh pengertian; guru yang tulus memberi nasehat; harta yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehingga dengan kecukupan itu ia tidak  lagi disibukkan oleh hal-hal yang akan melalaikannya dari agama; dan kewibaan yang akan menjaganya dari gangguan orang-orang bodoh dan kezaliman musuh. Masing-masing dari setiap sebab ini memerlukan enam belas sebab lainnya, kemudian setiap sebab itu memerlukan pula sebab-sebab lainnya, sehingga berakhir diakhirat, kepada Yang memberi petunjuk  kepada orang-orang yang kebingungan dan tempat bersandar orang-orang yang membutuhkan, yaitu Tuhan dari segala tuhan dan Penyebab dari segala sebab.
“ Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya tidak dapat kamu menghinggakanya.” (QS.Ibrahim (14) : 34)
Sumber : Imam Al Ghazali. Penerbit Karya Utama Surabaya dalam buku Mengungkap Rahasia Hakikat Sabar dan Syukur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

tambah